PMII sewaktu lahirnya 17 april 1960 di Surabaya adalah onderbouw partai NU Ia didirikan oleh M. said Budairi dkk 5 orang dengan maksud untuk menampung putra-putri NU. Semula Mahasiswa NU ditampung dalam IPNU, struktur organisasi dalam Departemen perguruan Tingggi. Kemudian timbul IMANU, tetapi ini tidak memberikan kepuasan. Lalu berbagai pertemuan antara lain di Ponorogo, Kaliurung, Mega Mendung, dan lain-lain dibentuklah PMII ( ini dapat dilihat di dokumen-dokumen Historis PMII ).
Tentunya setiap perjuangan sudah barang tentu mengalami pasang surut, tak terkecuali PMII, pada saat masa jayanya PMII dan gerakan kemahasiwaan di tanah air tahun 1965/1966 merasa terpanggil untuk menjebol Orde Lama, namun setelah itu kita dapat membaca dalam sejarah nyaris gerakan PMII mengalami stagnasi. Stagnasi ini tentunya disebabakan PMII : Pertama, tidak mampu memposisikan dirinya sebagai murni pejuang ekstra Parlementer dan kecenderungan political oriented dan melupakan tugas utamanya dalam membina kader anggotanya. Kedua, Kondisi sosisoa-politik menjelang dan sesudah Pemilu 1971 menyebabkan merosotnya kreatifitas kegiatan dan peranan PMII.
Fenomena gerakan seperti ini berlanjut sampai pada aksi gerakan mahasiswa 1998, meski mampu menumbangkan rezim Orde Baru dan kemudian menggantikannya dengan gerbong kereta yang bernama reformasi. Tapi entah kenapa lagi-lagi fenomena gerakannya sama, gerakan mahasiswa tidak mampu memberikan apa-apa selain pangkat heroisme yang melekat dalam dirinya.
BAGAIMANA PMII SEKARANG?
Hampir setengah abad usia PMII. Fase umur lima puluh tahun adalah titik kritis bagi sebuah organisasi kemahassiwaan yang memiliki jumlah masa dan cabang begitu banyak seperti PMII. Titik kritis perlu disikapi dengan mencari ramuan tepat format gerakan organisasi PMII.
Membaca “hakekat diri” merupakan inti dari gerakan perubahan, dan PMII harus beranjak dari ribuan pertanyaan di benaknya, andai hari ini PMII bisa dikatakan ada, maka berati dia mempunyai peran atau fungsi. Kemuadian banyak gugatan, peran dan fungsi apa yang selama ini dilakaukan oleh PMII? Apa bukti bahwa amal sholeh betul-betul menjiwai bagi ruh pergerakan? Kalau memang PMII “sangat dekat dengan NU” apa karya nyata PMII bagi jama’ah dan jam’iyah? Apa sumbangan untuk bangsa ini? Dan ribuan pertanyaan gugatan lain yang mepertanyakan tentang lakon gawian PMII, tentunya ribuan jawaban berupa argumentasi yang digunakan sahabat-sahabat, entah dengan tulisan, polemik, apologi, aksi jalanan, menebar program kerja, atau berdiam.
Terlepas dari beragam respon yang beragam guna menjawab pertanyaan diatas, tetunya sahabat-sahabat harus mampu membuktikan diri dan dan mencari tahu makna “Hakekat diri“ PMII. PMII yang terlahir dari masyarakt pedesaan dan terlahir dari kemelaratan tentunya mengharuskan keterlibatan langsung bagi PMII guna menjawab permasalahan-permasalahan yang sebenarnya adalah permasalahan dirinya sendiri. Adalah sangat naib ketika realitas diri tidak mampu dirasakan oleh kader pergerarakan dan tentunya menjadi sangat lucu apabila PMII mengalami “mati rasa” ketika ia tidak mampu merespon dan menjawab permasalahan kesenjangan sosial di masyarakat. Berangakat dari membaca ‘diri’ seharusnya ia mampu menemukan semangat yang universal dalam membangun arah gerakan PMII kedepan.
Diakui atau tidak berbagai macam orientasi dan kepentingan tentunya mengharuskan PMII “timbul dan tenggelam” dalam sejarahnya. Fenomena pertarungan idealis dan pragmatis turut serta mengantar PMII sampai sekarang entah karena keterlibatanya secara langsung dengan kepentingan elite politik atau gerakan-gerakan lain yang anti struktural dan anti system, akan tetapi kesemuanya memerlukan penerjemahan ulang dimana posisi ideal bagi PMII sekarang?
Jawaban bagaiman PMII sekarang tentunya merupakan pilihan kita, karena berbagai fenomena dan pengalaman sejarah sudah memberikan pengalaman dan landasan bagi kita untuk melangkah. Boleh jadi nanti gerakan kita bertransformasi dalam bentuk pejuang rakyat ( yang merupakan khittah kita ) atau pejuang kepentingan elite yang mengabdikan dirinya dalam teralis kekuasaan ataupun hanya sebagai Intelektual Marsose ( agen intelektual asing ).Wallahu‘alam.....
MEMFORMULASIKAN GERAKAN, MEMBANGUN IDENTITAS DAN MENJAWAB KERAGUAN
Saya teringat ketika ditanya oleh salah satu panelis dalam acara debat kandidat pencalonan Presiden Mahasiswa di IAIN Antasari Banjarmasin, salah satu pertanyaan yang sangat menarik (meski bisa di bilang pertanyaan ini sangat klasik) terkait tentang “apa yang menjadi semangat saya untuk memimpin gerakan kemahasiwaan ?” Dalam benak saya waktu itu mungkinkah saya mampu menanamkan satu bentuk paradigma ideal dalam gerakan kemahasiwaan yang sudah memilki ratusan cara pandang dan ideology, tetapi dengan pasti saya menjawab bahwa ketertarikan saya dalam gerakan kemahasiwaan adalah adanya semangat gerakan anti kemapanan yang selama ini melekat dibaju seluruh aktifis gerakan kemahasiswaan, entah benar atau tidak tapi saya menyakini formulasi yang sederhana antara anti kemapanannya mahasiswa dengan strategi yang matang dan dibungkus dengan teori-teori akademik akan mampu melakukan perubahan di dalam masyarakat.
Anti kemapanan merupakan ciri khas yang menurut saya harus menjadi modal gerakan kemahasiswaan dalam melakukan perubahan sosial tidak terkecuali di tubuh PMII itu sendiri, ciri khas yang melekat tadi tentunya merupakan bentuk perlawanan terhadap dominasi Negara maupun asing karena ia merupakan antitesa wacana hegemoni yang bergulir disekitar kita. Keberanian yang sudah melekat dalam diri gerakan kemahasiwaan akan menambah daya dobrak dan tentunya harus dibungkus kerangka berpikir akademik dan tersistematis.
Negara Vis-A-Vis Globalisasi dan mencari posisi PMII
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia.
Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain-lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme terhadap bangsa.
Tidak jarang, globalisasi, untuk banyak wilayah dunia dan sebagian manusia, dialami sebagai pengambil alihan sejumlah pola pikir dan ungkapan perasaan dan pikiran dari luar, sementara sebagian besar pikiran dan ekspresi perasaan dan pikiran masih berada di bawah penentuan tradisi lama. Orang mengambil alih sejumlah hal dan menempelkannya pada sebuah sosok yang mempunyai mentalitas yang lain. Menurut Franz Magnis-Suseno lagi, Globalisasi ini tidak menjamin keadilan sosial dan kesejahteraan negara. Berhadapan dengan kekuatan global raksasa, negara-negara lemah tidak dapat mempertahankan diri : pola Produksinya, tingkat hidup, industri. Sedangkan disetiap negara yang akan tersingkir adalah orang kecil. Disadari atau tidak, telah terjadi hegemoni kekuatan global (Asing) dan elite nasional di tanah air ini.
Motor paling kuat dibelakang organisasi adalah kepentingan ekonomi, hasrat untuk memaksimalkan profit. Globalisasi berjalan bersama dogma Neoliberalisme yang menuntut agar perekonomian seluruhnya diserahkan pasar yang dikuasai oleh modal dan komoditi kekuatan global. Kekuatan global tidak tidak mempunyai perhatian terhadap kesejahteraan, apalagi keadilan pembangunan masyarakat.
Dalam teori persekutuan segitiga ( Triple Alliance ) tentang Negara, teori ini berbicara tentang tiga unsur : Negara, kaum borjuis nasional dan modal asing. Untuk pengembangan industri, modal asing dibutuhkan. Supaya modal asing tidak terlalu mendominasi negara, maka negara memperkuat kaum borjuis nasional untuk mengimbangi pengaruh modal asing. Penguatan borjuis nasional untuk mengimbangi pengaruh modal asing. Penguatan kaum borjuis nasional oleh negara juga dipakai untuk mendapatkan kekuatan politik dalam negeri. Tanpa ini negara akan dituduh sebagai boneka atau antek modal asing. Dengan demikian, terjadi semacam persekutuan antara tiga komponen ini. Setiap komponen mengambil keuntungan dari kerjasama ini.
Sistem kapitalisme global yang yang masuk ke Indonesia dalam kerjasama triple alliance tentunya membutuhkan keberanian kita dalam memposiskan diri dan mengarahkan konsentrasi kita terhadap isu-isu masyarakat marginal untuk membangun orientasi gerak yang Pro Poor.
Arus globalisasi bagaikan boldoser penghancur yang menggerus nilai-nilai kearifan lokal, sehingga potensi kita kehilangan jati diri sebagai bangsa sangat memungkinkan terjadi dan pada gilirannya arus ini akan membentuk pandangan matrealisme disegala aspek kehidupan. Arus ini memaksa perubahan begitu cepat pada paradigma gerakan mahasiswa serta mengharuskan kita untuk menyesuaikan pilihan-pilihan gerakan. Paradigma idealis yang lugu dan pilihan gerakan yang sangat sederhana dan minim hanya akan menjadikan kita sebagai boneka dalam isu-isu global atau menjadikan kita sebagai kambing hitam dalam percaturan kepentingan elite.
Disinilah wacana anti kemapanan mahasiswa menemukan tempatnya, saat negara dan bahkan ruang nafas kita pun telah di rebut oleh asing dengan kekuatan modal raksasa yang tak tebatas. Maka jawaban awal dan merupakan ujung tombak untuk melawan arus globalisasi yang berbalut budaya Kapitalis hanyalah dengan menanamkan investasi supremasi moral pada kader, tanpa semangat ini kita akan sulit menemukan keotentikan idealis dalam bergerak yang selalu mendapat guncangan matrealisme dan pragmatisme yang membungkus setiap sendi dalam kehidupan dewasa ini, langkah selanjutnya yang tidak kalah strategis adalah menggali khazanah lokal untuk penguatan identitas dan menemukan semangat-semangat yang terpendam dari almarhum-almarhum tuan guru - tuan guru di tanah banjar yang mengajarkan tentang kemurnian dalam membangun gerakan-gerakan civil society. ( ide ke dua ini merupakan hasil diskusi saya dengan teman yang sudah malang melintang di NGO Internasional )
Setelah memaparkan dimana penempatan wacana anti kemapanan, tentunya bukan berarti kita harus meninggalkan orientasi ekonomi, karena harapan kedepan pola gerakan yang kita bentuk juga harus jeli dalam melakukan penguatan ekonomi karena biar bagaimanapun sebuah gerakan modern memerlukan ekonomi building untuk mencapai tujuannya, entah itu jabatan strategis atau penguatan kelembagaan secara umum, logika dasar yang dipergunakan ketika berbicara ini adalah kecemerlangan ide (semisal, program kerja) tidak akan berjalan tanpa penguatan finansial (ekonomi building) untuk itu kemampuan survival kader-kader PMII juga harus menjadi perhatian kita semua.
Step by step
Kerangka berpikir yang harus dibangun dalam menyikapi keadaan ini adalah dengan menciptakan dua stage berpikir dalam melakukan pola pengkaderan, pada stage awal kader selalu mengarah pada orientasi studi sehingga sense of belonging masih belum menemukan tempatnya. Pengkaderan pada tingkatan ini lebih memfokuskan bagaiamana membentuk format yang baik dengan menggabungkan pengembangan wacana ( Teori di bangku kuliah ) dengan kepekaan sosial (sense of resfonsibility), disini kita memulai memupuk kader dengan pengembangan wacana-wacana kiri ( Ex. Kiri Islam, Matrealis Dialektisnya Marx, teori pengorganisian tani ala Mao Tse Tung, dll.) sehingga wacana anti kemapanan memiliki contentnya dan dapat diaplikasikan pada ranah gerakan kader di tingkat pemula. Stage berpikir ini dapat dilakukan ketika awal-awal masa-masa kuliah dan uang murni dari orang tua dan kader masih dalam ruang lingkup Pengurus Rayon dan Komisariat. Stage selanjutnya bagaimana kita berbicara tentang tujuan gerakan dan tidak mengindahkan kemapanan ekonomi artinya pada stage berpikir ini kader pergerakan sudah memulai membangun kemapanan ekonomi dengan tetap berpikir idealis (pematangan dimulai pada stage awal). Kader yang sudah memiliki kematangan pada tingkat ideologi dan wacana ini akan mampu memberikan warna di dalam gerakan struktural maupuan gerakan kultural. Kader yang diciptakan dalam stage ini terlibat secara langsung dalam lingkup Pengurus Cabang dan PKC.
Setelah penyemaian itu berhasil maka target akhir dari proses ini kita akan mampu berbicara grand design besar untuk mengkonkritkan bahasa perubahan. dan itu artinya kemampuan kita dalam menempati posisi struktural adalah jawaban konkrit. Pada akhirnya kekuatan yang kita kuasi inilah yang akan mengkongkritkan gerakan kita dalam upaya membentuk system yang ideal dalam persfektif pro Poor. Dengan merebut posisi-posisi strategis inilah kita akan dapat mengambil mandat sejarah yang sudah lama tidak kita pegang.
Jika proses ini berlalu dengan baik maka pertanyaan tentang eksistensi ( peran dan fungsi ) PMII dan gerakan kemahasiswaan mungkin akan terkubur oleh bukti yang selama ini dirasakan oleh masyarakat secara umum dan jika ini berlalu dengan wacana ideal yang selama ini digulirkan maka harapan terakhir saya, ini tidak hanya sebagai onani intelektual para pewacana gerakan atau penulis disini pada akhirnya memiliki predikat watak mediatik ( Watak yang merasa bangga ketika tulisan atau gerakannya disorot oleh media ) tapi ini semua kembali dari setiap persfektif kita.
PMII DAN TATARAN COSMO ( DALAM RUANG LINGKUP GERAKAN MAHASISWA DAN PEMUDA ), MENYONGSONG PMII MASA DEPAN.
Semua gerakan mahasiswa tidak terkecuali dengan PMII lahir dari credo untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan raionalitas. Namun peta sederhana tentang gerakan pemuda menunjukkan adanya kompetisi yang komplikatif dan cenderung tidak sehat diantara gerakan pemuda dan mahasiswa ditengah lambatnya proses transisi demokrasi. Alih-alih bersinergi melawan ketidakadilan, korupsi dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh para penguasa, aktivis gerakan pemuda dan mahasiswa sibuk membuat strategi berkompetisi diantara mereka sendiri sehingga arah gerakan pemuada menjadi involutif dan kontradiktif.
Saatnya kita berbicara tentang prioritas gerakan dan mulai kembali ke khittahnya, tidak adakah hal yang lebih penting menyangkut tanggungjawab yang dipikul seorang aktivis gerakan daripada sekedar berkompetisi untuk sebuah eksistensi golongan? Tidakkah para pengemban perubahan ini melihat bahwa proses transisisi demokrasi telah lama mengalami stagnasi? Masihkah aktivis gerakan berkutat pada kelemahan dirinya sementara ribuan bahkan juataan rakyat menanti uluran tangannya? Adakah yang lebih mendesak daripada mulai meluruskan dan mengambil langkah strategis agar gerakan tidak terhenti dipersimpangan jalan? Masihkah gerakan mahasiswa berada pada garis perjuangannnya, memperjuangkan kebenaran sejati daripada sekedar mencari ‘keuntungan’, kepentingan sesaat serta tawaran-tawaran menggiurkan dari sebuah bisnis gerakan.
Dibutuhkan sebuah terobosan baru dengan menjalin komunikasi yang lebih baik diantara gerakan-gerakan mahasiswa dan pemuda yang ada sehingga saling mengerti dan memahami silaturahmi dan sharing diantara elemen gerakan mahsiswa dapat mengurangi ketegangan dan kecurigaan yang tidak perlu sehingga energi yang terserak dapat terkumpul menjadi kekuatan yang luar biasa. Sudah saatnya stigmatisasi dan prejudice diantara aktivis disudahi dengan saling bersapa dan berbagi.
Mengawali semua wacana tadi tentunya dibutuhkan suri tauladan dan kedepan harapan kita bersama semangat ini akan menjadikan PMII mampu mengupayakan inklusifitas dalam bergerak dan menjadi contoh bagi gerakan kemahasiswaan lain. Ketertindasan kita sebagai golongan tradisional yang selama ini kita rasakan bukan berati membuat kita picik dalam berpikir akan tetapi menjadikan diri kita termotivasi untuk merebut kembali mandat sejarah dengan tidak menghegemoni. Pengupayaan Kualitas kader adalah harga mati ketika kita ingin merebut setiap lini dalam ranah publik karena dengan kualitaslah kita akan tetap mampu berbicara keadilan dan proporsionalitas.
Oleh : PC PMII Kota Banjarmasin
Read more...